TGB berdiskusi dengan siswa SMKN 1 Mataram terkait larangan membawa ponsel ke sekolah.(suarantb.com/ros)
Mataram (suarantb.com) – Hari ini, Selasa, 14 Maret 2017 Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyempatkan berkunjung ke sejumlah SMA dan SMK di Mataram untuk meminta pendapat guru dan siswa-siswi terkait larangan membawa ponsel ke sekolah yang mulai diberlakukan 1 April 2017 mendatang. “Kita diskusi sama siswa dan guru soal izin membawa handphone ke sekolah. Ternyata lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya,” ungkapnya saat ditemui di SMAN 5 Mataram.
Dalam diskusi dengan sejumlah pelajar kelas X di SMAN 5 Mataram, para pelajar cukup berani menyampaikan pendapatnya di hadapan orang nomor satu di NTB ini. Salah seorang siswa, mengaku tidak setuju dengan larangan bawa ponsel. Sebab aktivitas ekstrakurikuler membuatnya tak memiliki jam pulang yang pasti. Sehingga ia membutuhkan alat komunikasi untuk memudahkan mengabarkan orang tua jika ia pulang telat.Membawa ponsel ke sekolah menurut TGB bisa membuyarkan konsentrasi saat proses belajar mengajar. Juga membuka peluang bagi para siswa menghabiskan waktu pada hal-hal yang bukan bagian dari pelajaran. “Tapi saya pikir siswa-siswi kita juga sudah tahu, banyak yang membatasi diri dari akses handphone selama sekolah. Tinggal mungkin diefektifkan saja dengan larangan itu,” katanya.
“Memang tidak boleh bawa handphone. Bagaimana kalau sekolah nanti sediakan nomor telepon khusus yang bisa digunakan oleh siswa untuk menelepon orang tua?” ujar TGB memberikan solusi. Siswa tersebut pun mengaku setuju jika benar disediakan telepon khusus yang bisa digunakan untuk menelepon orang tua.
Salah seorang siswi juga menolak larangan tersebut. Diakuinya banyak tugas sekolah yang membutuhkan bantuan ponsel untuk mengakses materi dari internet. Sementara jawaban dari tugas tersebut tidak ada di buku teks dan harus diselesaikan di sekolah.
“Kalau begitu, nanti guru kita minta agar penugasan yang jawabannya tidak ada di buku teks, bisa dijadikan pekerjaan rumah. Atau bisa mencari materi di perpustakaan, ada buku-buku dan komputer di sana, browse di situ,” jelas TGB.
Berdasarkan hasil diskusi dengan siswa dari sejumlah sekolah tersebut, TGB merasa semakin mantap untuk menerapkan larangan tersebut. Terlebih saat mengunjungi SMKN 1 Mataram, TGB menemukan fasilitas telepon di sekolah yang bisa digunakan pelajar. Tersedia juga jaringan internet yang bisa diakses menggunakan laptop milik tiap pelajar. Sehingga ponsel benar-benar tidak lagi digunakan siswa selama jam sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar